
Cara Mengelola Keuangan Anak Milenial selalu dihubungkan prinsil yang selalu dipegang anak milenial YOLO dan FOMO. YOLO merupakan singkatan dari prinsip you only live once, yang secara sederhana berarti, nikmatilah hidup saat ini tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. Sedangkan FOMO adalah singkatan dari fear of missing out alias ketakutan ketinggalan tren yang tengah berlangsung di komunitas atau peer group di mana generasi Y dan Z tergabung di dalamnya.
Dua pandangan itu sedikit banyak banyak mempengaruhi pola konsumsi generasi milenial dan Z. Sebagai contoh, pandangan YOLO mungkin mendorong Anda untuk memilih menghabiskan pendapatan untuk liburan ke tempat eksotis, ketimbang menyisihkan sebagian untuk bekal dana pensiun. Masa pensiun dinilai masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Sedangkan liburan ke tempat eksotis memberikan pengalaman instan yang menyenangkan dan bisa langsung Anda bagikan melalui akun media sosial.
Begitu pun FOMO yang tanpa disadari mendorong Anda rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tapi penting dimiliki agar tidak dianggap ketinggalan tren. Misalnya, berburu sneaker bermerek, gadget paling wah dan canggih dan lain sebagainya. Di Amerika Serikat, fenomena FOMO bahkan mengungkap keberanian anak milenial dan generasi Z berurusan dengan utang. Riset yang dirilis oleh Credit Karma pada tahun 2018 lalu menyebut, 39% anak muda rela berutang agar bisa mengikuti tren yang tengah berlangsung di komunitasnya.
Mengeloka Keuangan Anak Milenial
Kebutuhan untuk menikmati pengalaman (experiences spending) melalui traveling, kuliner, hangout selepas jam kerja, menonton konser artis idola atau membeli barang yang tengah tren, seringkali menjebak generasi Y dan Z dalam pola konsumsi yang boros. Sah-sah saja bila Anda ingin memperkaya pengalaman melalui berbagai aksi konsumsi tersebut. Hanya saja, supaya keuangan Anda tetap sehat, upayakan untuk menyiapkan alokasi khusus untuk pos pengeluaran yang sifatnya tersier.
Misalnya, dari 100% pendapatan, Anda bisa menyisihkan 5%-10% untuk kebutuhan dana pos tersebut. Dengan begitu, pos anggaran lain yang lebih penting dan mendesak, tidak perlu terganggu. Seperti pos dana darurat, pembayaran premi asuransi dan pos pengeluaran investasi untuk masa depan.
Investasi
Hasil riset “The Future of Money” oleh Luno bekerjasama dengan Dalia Research, terungkap bahwa 69% generasi milenial di Indonesia tidak memiliki strategi investasi. Lalu, menurut riset Tirto pada Juli 2019, sebanyak 44% generasi milenial hanya berinvestasi sekali dalam satu atau dua tahun dan 20% di antaranya tidak memiliki investasi apapun.
Di sisi lain, karakter generasi muda yang digital savvy dan menyukai hasil instan, membuatnya lebih berani mengambil risiko berinvestasi di instrumen berisiko tinggi yang didukung kecanggihan teknologi. Misalnya, memutar uang di aplikasi peer-to-peer lending (P2P lending) atau investasi saham melalui gadget. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih konservatif dan memilih berinvestasi di produk yang risikonya relatif rendah seperti deposito atau emas.
Investasi memang sangat penting dilakukan untuk melawan risiko penurunan nilai uang dalam jangka panjang akibat inflasi. Akan tetapi, pastikan Anda berinvestasi dengan menimbang besar kecil risiko dan kesesuaian dengan tujuan keuangan. Misalnya, untuk investasi jangka pendek di bawah tiga tahun, Anda bisa memilih reksa dana pendapatan tetap. Sedang untuk investasi jangka panjang, reksa dana saham atau campuran bisa menjadi pilihan. Jangan lupa pula mendiversifikasi portofolio di berbagai keranjang investasi supaya risiko kerugian bisa ditekan.
Rumah
Rumah tinggal adalah salah satu kebutuhan primer yang cepat atau lambat harus Anda penuhi, terlebih bila Anda memiliki keluarga. Supaya bisa mengejar kenaikan harga rumah, Anda perlu mengatur keuangan supaya bisa menyiapkan dana pembelian rumah. Sisihkan sebagian pendapatan untuk dana uang muka kredit pemilikan rumah (KPR). Kurangi pengeluaran konsumtif yang sifatnya tersier sehingga dana pembelian rumah lebih cepat terkumpul.
Menabung
Generasi Y dan Z memahami pentingnya menabung, tapi hanya sedikit pendapatan yang disisihkan sebagai tabungan. Riset yang dirilis oleh Alvara Research tahun 2017, mengungkapkan, tabungan adalah produk keuangan yang paling diingat oleh generasi muda kini. Namun, menurut riset IDN Research Institute pada tahun 2019, ternyata hanya 10,17% dari pendapatan yang disisihkan oleh generasi milenial sebagai tabungan.
Menyisihkan pendapatan merupakan bagian penting untuk membangun keuangan sehat. Misalnya, untuk membangun kecukupan dana darurat atau emergency fund dan mengantisipasi kebutuhan hari depan seperti dana pembelian rumah, dana pensiun, dana sekolah anak dan sebagainya. Untuk dana darurat, sebaiknya Anda memilih menempatkannya di instrumen yang likuid seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang. Sedang untuk antisipasi kebutuhan dalam jangka panjang, instrumen investasi lebih tepat menjadi pilihan. Seperti reksa dana atau saham.
Masa Pensiun
Supaya resiko miskin dimasa pensiun bisa dikurangi, mulailah mempersiapkan kebutuhan dananya sejak dini. Caranya, sisihkan minimal 10%-15% dari pendapatan rutin Anda sebagai tabungan pensiun. Karena target pemakaian dana masih lama, Anda bisa berinvestasi di instrumen yang agresif seperti saham. Bila Anda berstatus karyawan, perusahaan wajib mengikutsertakan Anda dalam kepesertaan program Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan. Anda juga bisa mengikuti program pensiun pribadi melalui produk DPLK yang banyak ditawarkan oleh perusahaan investasi dan perbankan.
Tabungan
Menyisihkan pendapatan merupakan bagian penting untuk membangun keuangan sehat. Misalnya, untuk membangun kecukupan dana darurat atau emergency fund dan mengantisipasi kebutuhan hari depan seperti dana pembelian rumah, dana pensiun, dana sekolah anak dan sebagainya. Untuk dana darurat, sebaiknya Anda memilih menempatkannya di instrumen yang likuid seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang. Sedang untuk antisipasi kebutuhan dalam jangka panjang, instrumen investasi lebih tepat menjadi pilihan. Seperti reksa dana atau saham.
Aplikasi Keuangan
Seringkali anak milenial menggunakan aplikasi untuk mengatur keuangan dan juga bisnis mereka. Saat ini menggunakan aplikasi keuangan menjadi penting untuk fungsi kontrol. Accurate online adalah software akuntansi yang bisa menjadi referensi bagi pebisnis milenial yang mempertimbangkan software akuntansi online. Membeli program akuntansi dengan harga terjangkau adalah pilihan namun jangan sampai fiturnya juga murahan. Accurate online membuat aplikasi keuangan yang harganya terjangkau namun dilengkapi fitur modern dan update untuk bisnis anda. Pengguna accurate online sendiri sekarang sudah sekitar 1 juta database perusahaan dari berbagai jenis perusahaan.
Coba Gratis Sekarang
Leave A Comment